Kamis, 27 November 2014

Aksesoris Kamera DSLR Yang Wajib Dimiliki

Setelah mempunyai Kamera DSLR (Body kit dan Lensa), tentu timbul keinginan untuk membeli accesories atau alat kelengkapan lainnya. Karena alat kelengkapan kamera sangat penting peranannya, khususnya yang ingin menjadi fotografer profesional. Meski dengan kamera plus lensa sobat sudah bisa memotret, ada perlengkapan lainnya yang sebaiknya perlu dimiliki. Meski tidak wajib, beberapa perangkat bisa membuat hasil DSLR sobat menjadi semakin baik. 

Aksesoris/ kelengkapan tersebut mudah ditemukan dengan beragam pilihan, antara lain : 

Tas Kamera 

Kamera adalah alat yang biasa dibawa kemana-mana. Karenanya, harus ada pelindung yang membawanya, yaitu tas khusus. Model tas kamera beragam, ada yang berbentuk selempang dan ransel. Biasanya ada slot-slot khusus di dalamnya, wadah untuk kamera, lensa dan aksesoris. Slot ini terdiri dari pembatas tebal, agar kamera tetap terlindung. Pilihlah tas kamera dengan pelindung tebal, anti lembab, dan berbahan anti air. Agar tak lembab sebaiknya sisipkan silica gel kedalam nya. 

Flash Eksternal 

Flash (lampu kilat) bawaan memiliki kemampuan terbatas, begitu pula pengontrolannya. Jika sobat sering memotret obyek di dalam ruangan, pertimbangkan untuk membeli flash eksternal. Benda yang kadang disebut flash gun tersebut memiliki pancaran lebih luas dan kuat. 

Filter 

Berupa lingkaran kaca yang dipasang di muka lensa. Fungsi nya beragam, tergantung jenis filternya. Ada filter polarized, infrared, hingga aneka filter warna. Satu filter wajib yang harus dimiliki adalah filter UV. Selain sebagai pembias sinar ultra violet, filter tersebut juga sebagai pelindung lensa dari resiko tergores dan debu. 

Cleaning Kit 

Karena lensanya bisa dicopot, kamera DSLR beresiko kemasukan debu dan kotoran. Lensa yang sering dipegang pun bisa cepat kotor. Karenanya, pembersih kamera diperlukan. Cleaning kit umumnya terdiri dari tisu pembersih lensa, blower untuk menghilangkan debu, serta cairan untuk membersihkan noda pada lensa. Ada yang dijual sepaket, ada juga yang dijual terpisah. 

Tripod 

Saat memotret dalam kecepatan shutter/rana rendah, semisal memotret di malam hari, anda memerlukan tripod. Maksudnya agar tangkapan kamera tidak goyang. Pilihlah tripod yang benar-benar kokoh dan memiliki kaki-kaki yang kuat memijak. 

Lens Hood 

Fungsi utamanya adalah untuk mengurangi efek flare, yang dibiaskan cahaya lampu atau matahari. Beberapa lensa DSLR telah menyertakan lens hood dalam kardus paketnya. 

Kartu Memori 

Inilah pengganti film pada kamera analog. Kalau dikamera analog media penyimpannya menggunakan film, maka pada kamera DSLR media penyimpannya menggunakan kartu memori. Statusnya wajib untuk kamera DSLR. Pada kamera DSLR ini kebanyakan menggunakan jenis Compact Flash (CF) dan Secure Digital (SD). Mereknya pun beragam, dengan kapasitas dan kecepatan yang beragam pula. Pilihlah kartu memori dengan kapasitas simpan yang besar untuk berburu foto, ini dimaksudkan agar kita dapat menyimapan banyak foto hasil jepretan.

Rabu, 26 November 2014

Teknik Dasar Kamera DSLR untuk Pemula


Kamera DSLR kini semakin trend dikalangan masyarakat, berbagai produsen kini meluncurkan kamera DSLR terbaru, selain dilengkapi dengan berbagai fitur, kamera DSLR menghasilkan kualitas gambar sesuai dengan yang kita inginkan jika kita mengetahui cara menggunakannya. Menggunakan kamera DSLR tidaklah mudah dalam membuat hasil gambar yang berkualitas, ada trik-trik dan petunjuk yang harus kita ikuti untuk menghasilkan kualitas potret yang lebih baik, terkecuali telah memiliki pengalaman sebelumnya tentang kamera tersebut. Banyak diantara kita yang baru mengenal kamera DSLR dibuat bingung oleh banyaknya menu yang disediakan, sehingga tidak memaksimalkan hasil foto yang diperoleh. 

Berikut ini, akan dibahas mengenai teknik dasar menggunakan kamera DSLR untuk pemula

1. Mengaktifkan kamera.
Mengaktifkan kamera tentunya sangat mudah yaitu dengan menekan tombol on. Setelah aktif, coba cek fokus kamera dengan melihat suatu objek melalui viewfinder. Membiasakan diri untuk melihat objek foto dengan menggunakan viewfinder jangan menggunakan monitor LCD, dimaksudkan agar terbiasa dengan viewfinder sehingga dapat menguasai objek yang akan di foto. 

Adalah memastikan kamera sudah dalam keadaan siap untuk digunakan, cek baterai, cek memory, dll. Setelah anda rasa kamera siap digunakan, selanjutnya kita coba mensetting kamera terlebih dahulu, setting kamera ke mode AV ( aperture Value) yaitu hanya merubah besarnya bukaan diagfragma sehingga Shutter Speed sudah otomatis di set oleh kamera tersebut. 

2. Mengatur menu kamera.

Kamera DSLR dengan monitor LCD biasanya berisikan menu setting untuk pengambilan foto. Sebelum memulai pemotretan, harus dapat melakukan pengaturan terhadap kamera, mulai dari pengaturan ISO, white balance, format gambar, diafragma, shutter speed dan ukuran gambar yang akan disimpan di memori kamera. 
Kemampuan men-setting kamera tentunya tidak akan memberikan hasil yang memuaskan begitu saja, diperlukan pembelajaran dan praktek yang terus menerus, dimana kita akan ditantang untuk dapat meramu perpaduan antara shutter speed, aperture [diafragma/F] dan ISO.
Kemampuan mengatur shutter speed sangat menentukan dalam memperoleh foto yang baik. Ketika akan mengambil foto objek bergerak maka dibutuhkan shutter speed yang cepat agar objek terlihat jelas, sedangkan apabila memotret di tempat yang gelap maka shutter speed harus diatur selambat mungkin agar kamera dapat mengumpulkan banyak cahaya untuk menerangi objek foto.
Ketika menggunakan shutter speed rendah agar foto yang dihasilkan tidak blur karena gerakan tangan maka kita dianjurkan menggunakan tripod untuk menyangga kamera. Setelah mengatur shutter speed, maka kita harus dapat mengatur aperture/diafragma. Ingat cara kerja aperture [biasa dilambangkan degan F] adalah semakin kecil nilai F-nya maka akan semakin besar bukaan diafragmanya ini mengartikan cahaya yang dikumpulkan akan semakin banyak sehingga objek foto akan semakin terang.
Untuk memperoleh exposure [pencahayaan] yang baik maka perlu diperhatikan penyeimbangan nilai shutter speed dan aperture, dan tentunya pemilihan ISO juga berpengaruh. Dalam memilih ISO seorang fotografer harus ekstra hati-hati, karena semakin tinggi nilai ISO maka semakin cepat reaksi sensor terhadap cahaya.
Kunci pemilihan ISO dan shutter speed, apabila anda memilih ISO yang tinggi misalkan ISO 400, ISO 1000 dll maka anda harus memilih shutter speed yang cepat. Begitu pula sebaliknya, bila anda memilih ISO rendah maka anda harus memilih nilai shutter speed yang lambat.
Penggunaan ISO rendah (ISO 64 atau ISO 800) dapat digunakan pada saat hari cerah, sedangkan ISO tinggi seperti 400, 800, 1000 dapat digunakan kepada objek gambar yang berada dalam cahaya rendah [gelap]. Jika ingin men-setting ISO yang dapat digunakan di segala jenis kondisi maka sebaiknya gunakan ISO 100 atau ISO 200. 

Mengenal Teknik Foto Bulb Dalam Fotografi

Mengenal Teknik Foto Bulb Dalam Fotografi Mengenal Teknik Foto Bulb Dalam Fotografi Mengenal Teknik Foto Bulb Dalam Fotografi - Kali ini saya akan memberikan artikel untuk Mengenal Teknik Foto Bulb Dalam Fotografi.Setelah beberapa saat yang lalu saya memberikan informasi mengenai Mengenal Apa Itu Depth Of Field dan juga sedikit artikel untuk Mengenal Istilah Dan Fitur Pada Kamera kali ini saya akan memberikan artikel lainnya mengenai dunia fotografi untuk Mengenal Teknik Foto Bulb Dalam Fotografi.

Teknik Foto Bulb Fotografi pada umumnya foto bulb dilakukan pada malam hari.Mengapa Teknik Bulb diambil pada waktu malam hari ?? Karena pada malam hari cahaya yang ada sangatlah minim, jadi amat sangat memungkinkan untuk melakukan pengambilan foto dengan speed yang sangat rendah.Dengan melakukan penyesuaian pada diafragma dengan bukaan kecil,sangat memungkinkan lagi untuk mendapatkan speed yg rendah.

Namun Foto Bulb  tidak hanya memungkinkan dilakukan pada malam hari namun juga siang hari tetapi tetap di tempat – tempat tertentu yang mempunyai pencahayaan minim.
Teknik Foto Bulb

Berikut adalah cara atau tips dalam teknik bulb yang munkin berguna :
 1.Biasanya Foto bulb dilakukan pada malam hari

 2.Gunakan speed rendah atau bulb, speed lebih dari 3 detik    
 Karena menggunakan speed rendah, untuk mengimbangi gunakan bukaan atau nilai f besar, f11 sampai f30, gunanya agar gambar bisa terlihat detail keseluruhan tanpa deph of field dan agar cayaha tidak terlalu fler atau terlalu terang

 3.Karena menggunakan kecepatan rendah, agar tidak ada goncangan saat mengambil gambar agar terjadi flug atau gambar yang gerak, maka gunakanlah alat bantu berupa tripod. Kalau tidak ada tripod, alternatif lain adalah seting kamera dengan timer, dan letakan kamera di landasan yang datar dan jauh dari goncangan.

Sekian informasi saya mengenai pengenalan dasar mengenai teknik foto ini.Semua hasilnya tinggal bergantung pada kreatifitas teman – teman semuanya.Semoga dengan adanya artikel sederhana ini teman – teman pembaca blog sederhana saya ini dapat Mengenal Teknik Foto Bulb Dalam Fotografi.

LIGHTING FOTOGRAFI (TEKNIK PENCAHAYAAN)






cahaya yang baik merupakan syarat untuk menghasilkan foto yang bagus, semua settingan yang kita atur baik itu ISO,Shutter Speed,Aperture seakan-akan di lakukan hanya untuk mendapatkan pencahayaan yang baik .

Lighting merupakan suatu elemen terpenting dalam fotografi, foto yang di hasilkan akan terlihat istimewa jika kita menempatkan sumber cahaya yang pas .
berbicara masalah tentang pencahayaan (Lighting) semua ini tergantung kita sendiri, karna cahaya yang bagus itu cahaya yg sesuai dengan komposisi dan selera anda dengan foto yang ingin anda ambil .

hal yang mesti di perhatikan dari cahaya :

1- Intensitas Cahaya adalah Kekuatan Cahaya .
Lakukan pengambilan foto dengan ukuran cahaya yang seimbang sehingga dapat menghasilkan foto yang terlihat natural, jangan terlalu kuat dan jangan terlalu lemah .
Jika memang lokasi pengambilan foto anda bercahaya tinggi, sebaiknya atur settingan Segitiga Eksposur

2- Arah Datang Cahaya
Arah datang Cahaya sangat berpengaruh pada komposisi foto,shadow dan highlight.
*Cahaya Depan adalah Cahaya yang sangat bagus untuk mengoptimalisasi kan foto, cahaya yang merata akan membuat foto tampak lebih bagus .
*Cahaya Samping adalah Cahaya yang membuat perubahan pada shadow(bayangan) dan dapat menghasilkan foto yang artistik .
*Cahaya Belakang adalah Cahaya yang biasa di gunakan dalam pengambilan foto siluet, hindari arah cahaya ini bila memang anda tidak menginginkan foto siluet .

3- Spektrum
Merupakan cahaya yang mengandung beberapa warna, Jadi sebetulnya sumber cahaya itu memiliki warna yang berbeda. Contohnya seperti lampu neon, kita mengetahui bahwa lampu neon itu berwarna putih tapi tidak untuk kamera . Lampu neon itu berwarna biru bagi kamera .

Teknik Dasar Komposisis dalam Fotografi

Teori dasar komposisi
 
1. Komposisi Letak 
2. Komposisi Warna 
Komposisi Letak 
Komposisi konvesional adalah obyek diletakan di tengah, baik untuk pengambilan vertikal maupun horizontal. Kemudian muncul the third rule yang bermula dari dasar teknik melukis, dimana dalam suatu bidang dibagi atas 3 bagian horizontal dan vertikal. 
The rule of third, dimasukan dalam kategori breaking the rule oleh fotografer konservatif, karena sering kali tidak ada penyeimbang di sisi yang berlawanan sehingga berkesan tidak seimbang. The third rule mulai digemari hingga sekarang sebagai salah satu jenis rule of photography dimana awalnya, masih mengikuti hukum gravitasi dan hukum sudut pandang. 
Pada perkembangannya, hukum gravitasi dan sudut pandangpun dilanggar dan malah menghasilkan foto yang unik. Dengan adanya the third rule bukan berarti hukum-hukum konservatif sudah punah, tapi cuma dianggap tidak lagi eyecatched. 
Pedoman dalam membuat konsep komposisi letak tidak ada, yang penting adalah jiwa saat membidik sudah menyatu dengan apa yang kita lihat. 
Komposisi Warna 
Semua orang suka dengan foto yang semarak dengan warna, namun foto yang selalu dikenang adalah foto yang menampilkan warna sesedikit mungkin. 
Perpaduan warna yang menarik bukan cuma antara warna kontras dan warna pastel atau perpaduan dari kedua jenis warna tersebut. Contoh warna yang menarik sebenarnya dapat kita ambil contoh dari keadaan sekeliling kita, contoh:
 
  • White or yellow on black (dan sebaliknya) keadaan gelapnya malam dengan terangnya siang atau terangnya lampu. 
  • Green on brown (dan sebaliknya) rumput dengan kayu (batang pohon) atau rumput kering.
  • Blue on white (dan sebaliknya) langit dengan awan atau pasir dengan laut.
  • Grey on blue (dan sebaliknya) langit dengan awan mendung 
  • Orange on black (dan sebaliknya) terangnya matahari sore dengan gelapnya silhouette

Teknik Koreksi Sudut Pengambilan pada sesi Potret di Studio
 
Bagian muka manusia dan semua mahluk hidup adalah berbeda antara sisi kiri dan sisi kanannya dengan patokan hidung sebagian garis batasnya.
Yang paling mudah dilihat adalah manusia, bahwa terdiri dari sisi maskulin dan feminin, baik pada pria maupun wanita.

Sebelum mengambil foto, pelajari lebih dahulu sisi wajah yang akan ditonjolkan dengan cara meminta model memalingkan mukanya ke kiri dan ke kanan.

Teknik Koreksi terdiri dari:
1. Koreksi melalui Kamera (lensa)
2. Koreksi melalui Subyek
 
A. Koreksi melalui kamera

Fungsinya adalah untuk memperindah bentuk tubuh model, contoh pada pemotretan studio :
  • Eye level, dimana posisi kamera berada di tengah-tengah ketinggian POI dalam frame (berpatokan pada pinggul). Foto yang akan dihasilkan adalah ketinggian POI mendekati normal. 
  • Low angle, dimana posisi kamera berada di bawah ketinggian POI, foto yang dihasilkan akan membuat POI seolah semakin tinggi, koreksi ini baik untuk POI yang berpostur pendek. 
  • Hi-angle, dimana posisi kamera berada di atas garis batas pinggul. Foto yang dihasilkan akan membuat seolah POI semakin pendek.
Untuk menghindari distorsi perspektif akibat sudut pengambilan low dan hi-angle, sebaiknya digunakan lensa yang minimal 2 x panjang frame film, jadi apabila sisi panjang frame film adalah 35mm (perbandingan panjang dan lebarnya sama dengan frame pada sudut bidik), maka lensa yang baik adalah 70 – 85mm. Lensa ini memperkecil distorsi perspektif.

B. Koreksi melalui subyek (POI)
 
Selain melalui kamera (lensa), koreksi sudut pengambilan juga bisa langsung kepada subyeknya, tapi peranan penting disini adalah filter dan cahaya.
Sebagai contoh pada pengambilan foto CU dan MCU
  •  POI bermuka bulat, berahang lebar atau berbadan gemuk. Gunakan short light dimana sisi muka/bagian badan yang menghadap ke kamera lebih gelap. Posisikan kamera di atas muka POI 
  • POI bermuka tirus atau berbadan kurus. Gunakan broad light, dimana sisi muka/bagian badan yang menghadap kamera mendapatkan cahaya yang lebih banyak. Posisi kamera eye level POI 
  • POI berkeriput, gunakan filter soft

Teknik Fotografi Menggunakan Kamera DSLR

Teknik-teknik dasar pemotretan adalah suatu hal yang harus dikuasai agar dapat menghasilkan foto yang baik. Kriteria foto yang baik sebenarnya berbeda-beda bagi setiap orang, namun ada sebuah kesamaan pendapat yang dapat dijadikan acuan. Foto yang baik memiliki ketajaman gambar (fokus) dan pencahayaan (eksposure) yang tepat.


A. FOKUS

Focusing ialah kegiatan mengatur ketajaman objek foto, dilakukan dengan memutar ring fokus pada lensa sehingga terlihat pada jendela bidik objek yang semula kurang jelas menjadi jelas (fokus). Foto dikatakan fokus bila objek terlihat tajam/jelas dan memiliki garis-garis yang tegas (tidak kabur). Pada ring fokus, terdapat angka-angka yang menunjukkan jarak (dalam meter atau feet) objek dengan lensa.

B. EKSPOSURE

Hal paling penting yang harus diperhatikan dalam melakukan pemotretan adalah unsur pencahayaan. Pencahayaan adalah proses dicahayainya film yang ada dikamera. Dalam hal ini, cahaya yang diterima objek harus cukup sehingga dapat terekam dalam film. Proses pencahayaan (exposure) menyangkut perpaduan beberapa hal, yaitu besarnya bukaan diafragma, kecepatan rana dan kepekaan film (ISO). Ketiga hal tersebut menentukan keberhasilan fotografer dalam mendapatkan film yang tercahayai normal, yaitu cahaya yang masuk ke film sesuai dengan yang dibutuhkan objek, tidak kelebihan cahaya (over exposed) atau kekurangan cahaya (under exposed).

C. Bukaan Diafragma (apperture)

Diafragma berfungsi sebagai jendela pada lensa yang mengendalikan sedikit atau banyaknya cahaya melewati lensa. Ukuran besar bukaan diafragma dilambangkan dengan f/angka. Angka-angka ini tertera pada lensa : 1,4 ; 2 ; 2,8 ; 4 ; 5,6 ; 8 ; 11 ; 16 ; 22 ; dst. Penulisan diafragma ialah f/1,4 atau f/22. Angka-angka tersebut menunjukkan besar kecilnya bukaan diafragma pada lensa. Bukaan diafragma digunakan untuk menentukan intensitas cahaya yang masuk.

Hubungan antara angka dengan bukaan diafragma ialah berbanding terbalik.
"Semakin besar f/angka, semakin kecil bukaan diafragma, sehingga cahaya yang masuk semakin sedikit. Sebaliknya, semakin kecil f/angka semakin lebar bukaan diafragmanya sehingga cahaya yang masuk semakin banyak."

D. Kecepatan Rana (shutter speed)

Kecepatan rana ialah cepat atau lambatnya rana bekerja membuka lalu menutup kembali. Shutter speed mengendalikan lama cahaya mengenai film. Cara kerja rana seperti jendela. Rana berada di depan bidang film dan selalu tertutup jika shutter release tidak ditekan, untuk melindungi bidang film dari cahaya. Saat shutter release ditekan, maka rana aka membuka dan menutup kembali sehingga cahaya dapat masuk dan menyinari film.
Ukuran kecepatan rana dihitung dalam satuan per detik, yaitu: 1 ; 2 ; 4 ; 8 ; 15 ; 30 ; 60 ; 125 ; 250 ; 500 ; 1000 ; 2000 ; dan B. .Angka 1 berarti rana membuka dengan kecepatan 1/1 detik. Angka 2000 berarti rana membuka dengan kecepatan 1/2000 detik, dst. B (Bulb) berarti kecepatan tanpa batas waktu (rana membuka selama shutter release ditekan)

Hubungan antara angka dengan kecepatan rana membuka menutup ialah berbanding lurus. "Semakin besar angkanya berarti semakin cepat rana membuka dan menutup, maka semakin sedikit cahaya yang masuk. Semakin kecil angkanya, berarti semakin lambat rana membuka dan menutup, maka semakin banyak cahaya yang masuk"

E. Kepekaan Film (ISO)

Makin kecil satuan film (semakin rendah ISO), maka film kurang peka cahaya sehingga makin banyak cahaya yang dibutuhkan untuk menyinari film tersebut, sebaliknya semakin tinggi ISO maka film semakin peka cahaya sehingga makin sedikit cahaya yang dibutuhkan untuk menyinari film tersebut. Misal, ASA 100 lebih banyak membutuhkan cahaya daripada ASA 400.

Bagian Dari Kamera

Dalam kegiatan produksi video/ film, terdapat banyak jenis kamera yang digunakan. Pembagian jenis kamera video/ film dibedakan atas media yang digunakan untuk menyimpan data (gambar & suara) yang telah diambil. 
Seperti halnya pada fotografi, gambar yang telah diambil disimpan pada gulungan film. Namun pada kamera jenis ini, disamping gulungan film juga terdapat pita magnetik untuk menyimpan data suara. Dalam 1 detik pengambilan gambar, dibutuhkan sekitar 30 frame film. Adapun jenis film yang digunakan adalah film positif (slide), dimana untuk melihat isinya harus dicuci terlebih dulu di laboratorium film dan diproyeksikan dengan menggunakan proyektor khusus.
Kamera jenis ini menyimpan data gambar dan suara pada pita magnetik. Secara umum terdapat 2 jenis kamera :
Analog (AV)
Data yang disimpan sebagai pancaran berbagai kuat sinyal (gelombang) pada pita kamera perekam. Macam kamera jenis ini antara lain VHS, S – VHS, 8mm, dan Hi – 8.
Digital (DV)
Kamera perekam video digital menyimpan data dalam format kode biner bit per bit yang terdiri atas rangkaian 1 (on) dan 0 (off). Jenis kamera ini antara lain mini DV, dan Digital 8.
 

 
Secara umum bagian-bagian kamera video terdiri atas :
1. Baterai untuk catu daya
2. Tempat kaset
3. Tombol Zoom
4. Tombol Recorder
5. Port Output video / audio (bisa berupa analog ataupun digital)
6. Cincin Fokus
7. Jendela preview (View Fender)
9. Tombol kontrol cahaya
10. Tombol Player (untuk memainkan kembali video).
11. Terminal DC Input.
Selain itu juga banyak terdapat fasilitas–fasilitas tambahan yang berbeda antara kamera satu dengan kamera lainnya. Fasilitas itu antara lain lampu infra merah untuk pengambilan gambar pada tempat yang gelap, edit teks langsung dari kamera, efek-efek video lain, slow motion dan masih banyak lagi.